Selasa, 24 November 2009

Aerio air intake - berita

Saya dapat file ini dari mailing list Aerio Indonesia Club yang ada di yahoo groups.
Foto berikut terlihat posisi air intake "seakan-akan" lebih tinggi daripada roda, menurut perkiraan saya ini terjadi karena dalam kondisi di "dongkrak"; Yang pasti perhatikan jarak dari headlamp dan posisi grill bawah yang terletak di bawah "bar" baja.

berikut adalah isi beritanya :


KATAKAN SEJUJURNYA!
RECALL SUZUKI BALENO NEXT-G & AERIO

Berawal dari artikel Ototips (OTOMOTIF No.24/XIII) yang mengupas tentang konstruksi filter udara Suzuki Beleno next-G (2003) dan Aerio (2002), terutama corong air intake-nya yang terlalu rendah.
Akhirnya pihak PT Indomobil Niaga International (INI), pun melakukan langkah menggelar recall terselubung terhadap kedua produk itu. Program bertajuk Suzuki Peduli itu bakal digelar pada 3-15 November 2003.

SERVICE CAMPAIGN
Sayangnya, pihak INI tak mau program itu disebut sebagai aktivitas recall. Menurut Bebin Djuana, marketing manager INI, pihaknya lebih suka memakai nama service campaign. Maksudnya, buat pemilik kedua mobil itu, dipersilakan datang ke dealer terdekat untuk mengganti peranti yang punya kesalahan konstruksi itu tanpa dipungut biaya. "Pelaksanaan teknisnya, kami belum bisa jabarkan," ungkap Bebin.
Secara terbuka, Bebin mengakui kalau kedua produk itu memang punya masalah pada corong air intake. Lantaran letaknya yang terlalu rendah, potensi mesin terserang water hammer menjadi besar. "Kejadian ini baru pertama kali terjadi di dunia, makanya pihak INI kudu menunggu kepastian produk pengganti dari pihak Jepang," terangnya sambil menunjuk pihak yang dimaksud adalah Suzuki Motor Corp (SMC).

Tak ketinggalan, Sulistyo Wibowo, manager area representative & development INI ikut berkomentar. "Soal pipe air cleaner suction bukanlah kesalahan pabrik. Karena kedua sedan itu merupakan produk standar Jepang yang berkondisi sama di seluruh dunia," imbuhnya.

Lebih lanjut pria ramah ini mengatakan kalau kondisi Indonesia yang sering hujan dan banjir menjadi penyebabnya, sehingga dibuatkan spesial hose dengan bentuk beda dibanding standarnya. "Makanya Suzuki akan kampanye servis," ujar Sulistyo.
Sayangnya, walau program kampanye servis itu sudah masuk waktu pelaksanaan, Sulistyo maupun Bebin belum bisa menjamin kapan peranti itu diganti. Sebab perangkat hosenya masih diorder ke Jepang dan belum semuanya sampai ke sini. Namun menurut Sulistyo, "Part yang sudah datang, kita akan masukkan program Suzuki Peduli, (3-15 November 2003)."

LEBIH BAIK TERBUKA
Aktivitas menarik ulang barang yang sudah beredar dipasar (recall) kerap dilakukan pabrikan. Utamanya bila mobil yang diproduksi memang punya kelemahan yang bersifat membahayakan.

Dalam catatan OTOMOTIF, recall yang masih hangat terdengar di tanah air dilakukan PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), pemegang merek Mitsubishi (OTOMOTIF No.41/XII). Produknya berlabel Kuda produksi tahun 2002, beberapa unit diketahui punya cacat pada brake pipe-nya.
Pipa penyalur minyak rem itu terbilang vital, lantaran letaknya yang mepet dengan fender sehingga dikhawatirkan bisa bocor. Alhasil, pihak KTB merasa wajib menginspeksi satu per satu ke konsumen. "Namanya produksi massal, pasti ada kekhilafan," jelas Rizwan Alamsjah, direktur pemasaran KTB ketika itu.Langkah itu bukan hanya sekali. Pihak KTB juga pernah 'memanggil kembali' pemilik Mitsubishi Galant keluaran 1993-1997 untuk mengganti ball-joint lantaran berbunyi (OTOMOTIF No.43/X).

Begitupun Kia Carnival. Pada akhir tahun 2000 lalu, PT Kia Mobil Indonesia (KMI), secara diam-diam menginspeksi Carnival Turbo Diesel otomatis. Sebab, ditengarai ada kesalahan pada sistem pompa oli. Hasilnya, dari 2.200 unit yang terjual di Indonesia, terdeteksi 348 unit yang bermasalah.
Jauh sebelumnya, PT General Motors Indonesia (GMI) juga pernah merecall Opel Blazer DOHC dan LT di tahun 1999. Penyebabnya, sistem timing belt kedua produknya itu berpotensi menimbulkan masalah pada mesin (OTOMOTIF No.47/VIII).

Penarikan itu bukan dominasi mobil-mobil kelas menengah saja. Lihat apa yang dilakukan BMW AG terhadap seri 7 barunya pada tahun 2002 lalu. Gara-gara sistem elektronik pengatur skep dan pasokan bahan bakar bermasalah, pabrikan Jerman itu merecall 15 ribu unit seri 7 yang terdiri dari 745i dan 735i E65 yang beredar di dunia(OTOMOTIF No.05/XII).
Melihat hal itu, agaknya gaya panggil kembali unit cacat produksi memang biasa terjadi. Artinya, kalaupun ada persoalan pada mobil hasil buatannya, seharusnya pabrikan mengakui secara terbuka kepada konsumen.

Sebab, menurut Hermawan Kartajaya, pakar marketing dari Mark Plus saat menanggapi recall Mitsubishi Kuda beberapa waktu lalu, dengan adanya pengakuan dari produsen justru menimbulkan kepercayaan bagi konsumennya.
Seperti apa yang dikatakan Aryo Satryo, wiraswastan pemakai Isuzu Panther keluaran '98, "Saya lebih menghargai perusahaan yang mengakui kalau produknya memang cacat. Terutama yang mau mengumumkan secara terbuka di banding diam-diam langsung ke konsumen."


R. Panji Maulana, Rizka Sasongko Aji, Yulian Lahardi
OTOMOTIF

Comments
0 plus+

0 comments :

Poskan Komentar